Detil Informasi

wave

Artikel  .  15 Jun 2026

·

31 kali dilihat

Di Balik Layar Doomscrolling: Hiburan Palsu yang Bikin Lelah.

foto

Malam sudah larut dan suasana kamar begitu sunyi. Kamu membuka media sosial hanya untuk menghabiskan waktu luang yang tersisa selama beberapa menit, tetapi jempolmu seolah punya nyawa sendiri, terus mengusap layar ponsel ke bawah, berpindah dari satu berita buruk ke video drama yang sedang viral, tanpa bisa berhenti. Dari niat awal mencari hiburan untuk mengisi waktu luang justru berujung zonk; alih-alih merasa tenang, setelah berjam-jam berlalu yang tersisa justru pikiran yang makin bising, rasa cemas yang samar, dan tubuh yang terasa lelah.

Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan menelusuri berita buruk di media sosial atau situs berita secara terus-menerus dan sering kali terjadi secara tidak sadar (Halodoc, 2026). Menurut Matthes dkk. (2020) dan Sharma dkk. (2022) dalam Agita dkk. (2025), individu yang terlibat dalam perilaku doomscrolling sering kali merasa terdorong untuk terus mengetahui kondisi dunia luar yang penuh dengan ketidakpastian, namun berakhir terjebak dalam siklus konsumsi berita dengan kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran. Di tengah kemudahan akses informasi saat ini, doomscrolling menjadi perilaku yang semakin umum terjadi. Banyak orang melakukannya tanpa menyadari bahwa kebiasaan tersebut tidak selalu memberikan rasa nyaman, melainkan dapat menguras energi emosional dan memengaruhi kesehatan mental.

Fenomena ini menjadi semakin relevan di Indonesia yang memiliki tingkat pengguna media sosial paling dominan. Menurut laporan IDN Research Institute (2024), sebagian besar menghabiskan waktu 1–6 jam per hari di media sosial, bahkan sekitar 5% menggunakannya hingga 10 jam per hari (Agita et al., 2025). Menurut Gupta & Sharma (2021), dinamika ini diperparah oleh tekanan sosial digital seperti Fear of Missing Out (FOMO) dan kebutuhan mendalam akan validasi sosial. Niat awal mencari informasi agar tidak tertinggal dari tren terkini justru menjadi bumerang. Di sisi lain, algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang sesuai dengan minat dan respons pengguna, sehingga mendorong mereka untuk terus menggulir layar. Setiap kali menemukan informasi baru, otak menerima sensasi penghargaan (reward) yang memicu pelepasan dopamin dan menimbulkan rasa ingin tahu untuk terus mencari konten berikutnya. Akibatnya, pengguna dapat terjebak dalam siklus konsumsi informasi yang sulit dihentikan, meskipun konten yang dikonsumsi justru memicu kelelahan emosional dan kecemasan (Kadir & Baso, 2026).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan kelelahan emosional. Penelitian oleh Firmansyah (2026) menemukan bahwa doomscrolling memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kecemasan pada kelompok emerging adults. Semakin tinggi kecenderungan seseorang untuk melakukan doomscrolling, semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami. Selain kecemasan, perilaku ini juga dapat memengaruhi kesehatan mental secara lebih luas. Agita dkk. (2025) menemukan bahwa intensitas doomscrolling yang tinggi berkaitan dengan penurunan kondisi kesehatan mental pada Generasi Z. Paparan informasi negatif yang terus-menerus dapat memicu stres, perasaan tidak berdaya, serta menurunkan kesejahteraan psikologis individu. Kajian lain juga menjelaskan bahwa konsumsi konten negatif secara berlebihan dapat menyebabkan fenomena brain rot, yaitu menurunnya kapasitas fokus dan meningkatnya sensitivitas emosional akibat stimulasi digital yang berlebihan (Yousef et al., 2025). Akibatnya, aktivitas yang awalnya dilakukan untuk mencari informasi justru membuat seseorang merasa semakin lelah secara mental.

Di tengah derasnya arus informasi digital, menghindari doomscrolling sepenuhnya mungkin tidak mudah. Namun, menyadari pola perilaku ini merupakan langkah awal yang penting. Terdapat beberapa cara efektif dalam menghentikan kebiasaan perilaku doomscrolling menurut Halodoc (2026), seperti:
1. Gunakan fitur pengingat waktu pada aplikasi media sosial untuk membantu membatasi durasi penggunaan. Cobalah beristirahat selama 10 menit setelah menggunakan media sosial selama 1 jam.
2. Aktifkan mode grayscale pada malam hari agar tampilan layar menjadi kurang menarik dan mengurangi keinginan untuk terus membuka media sosial.
3. Lakukan digital detox sebelum tidur atau saat jeda aktivitas. Alihkan waktu dengan kegiatan lain seperti membaca buku, memasak, berolahraga, atau melakukan hobi yang tidak melibatkan handphone

Sumber
Agita, I. D., Dimala, C. P., & Mustika, H. (2025). Gulir Tak Berujung: Pengaruh Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental Gen Z Karawang. EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies, 5(2), 1569–1578.
Firmansyah. (2026). Pengaruh Doomscrolling terhadap Kecemasan pada Emerging Adult. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 13(1).
Kadir, A., & Baso, M. A. (2026). Manifestasi Kecemasan dan Depresi dalam Perilaku Digital: Analisis Psikologi

Logo Perusahaan
Logo Perusahaan

Alamat Kami

Grand Harvest BC 20, Balasklumprik, Surabaya

Hubungi Kami

Ikuti Kami

“Setiap Pribadi punya cerita, dan setiap cerita layak mendapat ruang aman.”

© 2025 Bengkel Talk | Powered by pindev.id