Detil Informasi
Artikel . 15 Agt 2026
·
5 kali dilihat
Quarter Life Crisis Ketika Hidup Berada di Persimpangan

“Ambil jurusan apa?”, “Apa pilihanku ini benar?”, “Kapan lulus?”, “Mau kerja apa?”, hingga “Kapan nikah?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terasa familiar bagi mereka yang memasuki usia 20–30 tahun. Pada fase ini, seseorang mulai merangkai kehidupan sebagai orang dewasa, sehingga kebingungan mengenai studi, karier, relasi, dan masa depan merupakan hal yang cukup umum. Fase ini dikenal sebagai quarter life crisis (QLC).
Penelitian Oliver Robinson dan rekan-rekannya di delapan negara menunjukkan bahwa 77% dewasa muda Indonesia melaporkan pernah mengalami QLC, lebih tinggi dibandingkan beberapa negara lain.
Apa Itu Quarter Life Crisis?
Istilah QLC dipopulerkan oleh Alexandra Robbins dan Abby Wilner pada awal tahun 2000-an. QLC merupakan fase krisis perkembangan pada usia 18–30 tahun yang ditandai krisis identitas, kebingungan peran, dan ketidakjelasan arah hidup.
QLC bukanlah gangguan mental, melainkan bagian dari transisi menuju kedewasaan. Namun, jika tidak direspons dengan tepat, fase ini dapat menimbulkan berbagai dampak negatif.
Robinson membagi dinamika QLC ke dalam empat fase:
Lock-in, ketika seseorang merasa terjebak dalam komitmen seperti jurusan, pekerjaan, atau hubungan yang tidak lagi sesuai.
Separation, ketika seseorang menyadari ketidaksesuaian tersebut dan mulai melepaskannya.
Exploration, yaitu masa mencoba berbagai alternatif dan jalan hidup dengan ketidakpastian sekaligus keterbukaan.
Rebuilding, ketika seseorang mulai membangun kembali hidup berdasarkan nilai dan pilihan yang lebih autentik.
Wajah QLC di Indonesia
QLC di Indonesia memiliki karakteristik yang menarik. Jika tema yang dominan di beberapa negara berkaitan dengan karier dan pencapaian profesional, partisipan Indonesia lebih banyak mengalami “kesulitan keluarga”, seperti tuntutan orang tua, konflik keluarga, dan tekanan untuk membantu keluarga secara ekonomi.
Kondisi ini dapat dipengaruhi budaya kolektivitas, termasuk tuntutan terhadap perempuan untuk membangun rumah tangga sekaligus mengembangkan pendidikan, karier, dan kondisi finansial. Masalah sandwich generation juga dapat memperberat QLC melalui interaksi faktor individu, sosial, dan ekonomi.
Dari dalam diri, krisis dapat diperkuat oleh ekspektasi yang tidak tercapai, keraguan terhadap diri sendiri, rendahnya efikasi diri, ketakutan mengambil risiko, ketidakjelasan tujuan hidup dan perbandingan diri dengan orang lain.
QLC yang tidak direspons dengan tepat dapat berdampak pada keberhargaan diri, kesehatan psikologis, relasi, akademik, maupun pekerjaan. Sebaliknya, Robinson melihat QLC sebagai proses yang memiliki fungsi perkembangan: krisis dapat membuka ruang untuk melepaskan komitmen yang tidak lagi sesuai dan membangun kehidupan yang lebih autentik.
Bagaimana Melewati QLC?
Ada beberapa hal yang dapat dilatih untuk melewati fase ini:
Self-compassion
Memperlakukan diri dengan baik ketika gagal (self-kindness), menyadari bahwa kebingungan merupakan pengalaman yang juga dialami banyak orang, serta menerima emosi tanpa menekannya merupakan cara untuk bisa mengembangkan self-compassion.
Mencari dukungan sosial
Komunitas yang sehat atau accountability partner dapat memberikan penguatan dan dukungan selama menghadapi masa krisis.
Meningkatkan resiliensi
Resiliensi membantu seseorang beradaptasi dan bertumbuh ketika menghadapi tekanan. Kamu bisa melatihnya dengan regulasi diri, refleksi diri, inner dialogue, dan menetapkan tujuan yang bermakna.
Mengembangkan spiritual coping
Spiritual coping merupakan cara menghadapi krisis dengan menggunakan keyakinan, nilai, atau praktik spiritual. Penggunaan yang positif dapat dilakukan dengan jujur terhadap perasaan, belajar menyerahkan keadaan kepada Tuhan, dan menyadari kebaikan yang tetap hadir selama masa sulit. Sebaliknya, memandang krisis semata-mata sebagai hukuman atau tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita dapat membuat proses semakin berat.
QLC Bukan Akhir dari Segalanya
QLC merupakan fase transisi yang wajar dalam perjalanan menuju kedewasaan. Dampaknya dapat menjadi konstruktif maupun destruktif, bergantung pada bagaimana seseorang meresponsnya. Dengan mengembangkan self-compassion, membangun dukungan sosial, meningkatkan resiliensi, dan bergantung kepada Tuhan, masa krisis dapat menjadi kesempatan untuk menemukan makna, menata kembali pilihan, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih autentik.
Sumber :
Alexandra Robbins, Abby Wilner. Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties. Penguin Publishing Group, 2001.
Asrar, Alisa Munaya, dan Taufani Taufani. “Pengaruh Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Quarter-Life Crisis Pada Dewasa Awal.” JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health 3, no. 1 (2022): 1–11.
Kawuryan, Fajar. “Between Expectations and Demands: The Dynamics of Quarter-Life Crisis in the Sandwich Generation Antara Harapan dan Tuntutan : Dinamika Quarter-Life Crisis pada Sandwich Generation” 15, no. 1 (2026): 73–82. http://dx.doi.org/10.30872/psikostudia.v15i1.
Robinson, Oliver. “A Longitudinal Mi


Alamat Kami
Grand Harvest BC 20, Balasklumprik, Surabaya
“Setiap Pribadi punya cerita, dan setiap cerita layak mendapat ruang aman.”
© 2025 Bengkel Talk | Powered by pindev.id
